Bersyukur Karena Diselamatkan dari Kesalahan Sendiri

BERSYUKUR KARENA DISELAMATKAN DARI KESALAHAN SENDIRI

Mazmur 107:17-22

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

17  Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;

18  mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut.

19  Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,

20  disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.

21  Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.

22  Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!

 

PENDAHULUAN

Mazmur 107 (yang mencakup nas ini) adalah mazmur yang berisikan nyanyian syukur atas segala pertolongan Tuhan. Tuhan diproklamirkan sebagai Pribadi yang bertindak menolong umat-Nya. Pemazmur (banyak yang menganggapnya sebagai Raja Daud) merasakan dalam kehidupannya bagaimana Tuhan telah menolongnya melalui berbagai kesulitan dalam hidupnya. Melalui mazmur ini, umat diajak untuk bersyukur atas kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan mereka.

 

Melalui nyanyian syukur ini, pemazmur berupaya mengoreksi pemikiran orang yang enggan bersyukur. Pemazmur bahkan sampai empat kali menegur hati orang-orang yang telah dingin dan enggan berterimakasih kepada Tuhan: “Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia” (ay. 8, 15, 21, 31). Teguran pemazmur ini juga mengajak kita untuk belajar bersyukur kepada Allah atas segala kebaikan-Nya bagi kita.

 

ALASAN UNTUK BERSYUKUR

Kata bersyukur dalam mazmur ini diterjemahkan dari bahasa Ibrani “yadah” yang berarti “memuji, berterimakasih” (Strong #03034). Jadi bersyukur kepada Tuhan artinya memuji Tuhan atau berterima kasih kepada Tuhan. Bersyukur bisa melalui ucapan, perbuatan atau lewat nyanyian syukur seperti Mazmur 107 ini.

Kita bersyukur karena Tuhan itu baik dan kebaikan-Nya itu permanen (Maz. 107:1) bukan temporer. Berbagai kebaikan Tuhan yang dinyatakan pemazmur dalam Mazmur 107 ini, antara lain, Tuhan itu menebus orang-orang dari kuasa yang menyesakkan (ay. 2), melepaskan orang-orang dari kecemasan (ay. 6, 13, 19, 28), melakukan perbuatan-perbuatan ajaib terhadap anak-anak manusia (ay. 8), membawa orang-orang keluar dari dalam gelap dan kelam (ay. 14), meluputkan orang-orang dari liang kubur (ay. 20), menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya.

Akan tetapi, tidak sedikit orang yang tidak atau kurang bersyukur kepada Tuhan dalam hidupnya. Lalu mengapa orang kurang mensyukuri kebaikan-kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya? Alasannya, antara lain, karena: kurang membiasakan diri untuk bersyukur dan berterima kasih, kurang menghayati kasih setia Tuhan, kurang memahami kedahsyatan dan keajaiban karya-karya Tuhan, atau hanyut dalam perkara-perkara duniawi.  Dengan tidak atau kurang bersyukur sebenarnya mereka ini akan semakin kuatir, gelisah dan takut menjalani kehidupan yang dirasakan penuh masalah yang menghimpit dirinya.

 

DOSA MEMBUAT MANUSIA MENJADI MENDERITA

Pemazmur, dalam nas ini, juga mengungkapkan tentang perbuatan dosa yang membuat kehidupan manusia menjadi penuh dengan penderitaan dan kesusahan. Mengapa? Karena dosa membuat manusia terpisah dari Tuhan. Padahal Tuhanlah sumber damai sejahtera dan sukacita yang sejati. Bahkan ada orang yang mengalami penyakit karena dosa. Oleh sebab itulah, pemazmur menyerukan supaya orang yang seperti itu bertobat dan kembali berseru kepada Tuhan (ay. 21-22).

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka hidup mereka menjadi susah. Mereka harus bersusah payah untuk mencari makanan. Selain itu, di dalam keluarga Adam dan Hawa terjadi perselisihan bahkan pembunuhan. Begitu juga pada zaman Nuh, dunia penuh dengan kejahatan yang menjadikan Tuhan murka. Tuhan mendatangkan air bah. Dosa menjadikan orang-orang binasa melalui peristiwa air bah. Oleh karena itulah, pemazmur menyerukan supaya setiap orang senantiasa memelihara persekutuan rohaninya dengan Tuhan, dan tetap mengarahkan hatinya memuji dan memuliakan Tuhan.

 

TUHAN MENYEMBUHKAN SEGALA PENYAKIT KITA

Ada kalanya suatu penyakit kita alami karena kelakuan dan kesalahan kita sendiri (ay. 17). Namun Tuhan itu baik. Dia mau menyembuhkan kita. Tetapi sebelum Tuhan menyembuhkan, Tuhan menyampaikan firman-Nya supaya kita mengakui segala kesalahan/dosa kita dan mendapatkan pengampunan, sehingga Tuhan menyembuhkan dan meluputkan kita dari liang kubur (ay. 20).  Jika kita mau menerima Firman Tuhan, maka kuasa Firman itu akan menjadi kesembuhan bagi seluruh tubuh kita (Am. 4:20-23). Jika Firman Tuhan menegor dan menyatakan kesalahan kita, justru kita harus bersyukur kepada Tuhan. Jika hati kita terbuka kepada Firman Tuhan maka Tuhan melakukan perkara yang ajaib, yaitu mujizat kesembuhan.

Tuhan itu baik. Kebaikan-Nya yang terutama adalah Dia mengampuni segala kesalahan dan dosa kita. Jika dosa/kesalahan kita sudah diampuni Tuhan, maka segala penyakit kita pun pasti disembuhkan-Nya sebagaimana dinyatakan Daud dalam Mazmur 103:3, “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu” (bdk. Yes. 33:24). Tuhan menyembuhkan segala penyakit kita yang berarti bukan hanya penyakit jasmaniah saja, tetapi juga penyakit rohani.

Jadi, semestinyalah kita bersyukur atas kasih setia Tuhan yang terus menerus dinyatakan kepada kita. Betapapun berdosanya kita, yang berakibat sakit penyakit (jasmani maupun rohani) pada diri kita, namun kasih setia Tuhan menyembuhkan dan memulihkan kita (ay. 21).

 

REFLEKSI

Dosa bisa juga menyebabkan penyakit, meskipun penyakit tidak selalu merupakan akibat dari dosa. Tetapi justru dengan mengakui adanya penyakit akibat dosalah, kita manusia boleh sadar dan bertobat sehingga beroleh kesembuhan dari Tuhan. Betapa mulia kasih setia Tuhan dibandingkan dengan kebodohan, pemberontakan dan keberdosaan kita.

Pengalaman Israel seharusnyalah membuat kita mawas diri. Naikkan syukur karena kasih setia-Nya terus menopang kita, walaupun kita sama seperti Israel, tidak layak ditolong. Mulai dari sekarang semestinyalah syukur kita terwujud dalam bentuk kehidupan yang berkomitmen, yaitu kita lebih setia, taat dan berserah mengikut Tuhan. Perlu kita renungkan bahwa kasih setia Tuhan jauh melampaui kebebalan kita karena Dia benar-benar ingin mengubah kita.

Comments

Popular posts from this blog

Bersukacita dalam Penderitaan

Jadilah Cerminan Kasih Tuhan

Sehati Sepikir dalam Satu Kasih