Tuhan Adalah Gembalaku
TUHAN ADALAH GEMBALAKU
Mazmur 23:1-6
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan
kekurangan aku.
2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput
hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di
jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah
kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan
tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di
hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh
melimpah.
6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti
aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
(Mazmur 23:1-6)
PENDAHULUAN
Dalam hidup kita sebagai orang Kristen tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang timbul rasa takut yang membebani kita. Contohnya bisa berupa takut terhadap kekurangan (uang, makanan, pakaian, rumah, dll.); takut terhadap penderitaan (bencana, malapetaka, kesukaran, penyakit, dll.); takut terhadap masa depan; takut tersesat secara rohani; dsb. Kita mungkin beranggapan bahwa rasa takut semacam ini adalah beralasan dan normal asalkan tidak sampai mencapai level ‘phobia’.
Phobia adalah sebuah istilah dalam bahasa Yunani yang
berarti ketakutan yang tidak masuk akal, tidak realistis, menetap dan
berlebihan terhadap sesuatu objek atau keadaan (Wikipedia, The Free Encyclopedia). Meskipun tidak sampai mencapai
tingkat ‘phobia’, namun dari sudut Alkitab dan dari sudut Allah sendiri,
ketakutan-ketakutan yang disebutkan di atas jelas tidaklah beralasan dan
sebetulnya tidak boleh ada. Mengapa? Karena Tuhan adalah Gembala kita.
TUHAN ADALAH
GEMBALA KITA SECARA PRIBADI
Tuhan menggembalakan kita pribadi lepas pribadi. Ini dapat kita simpulkan dari ay. 1, “Tuhan adalah gembalaku”. Alkitab memang juga menggambarkan Tuhan sebagai gembala Israel secara kolektif (Maz. 78:52; Yes. 40:11), tetapi dalam nas ini, tampak jelas bahwa Tuhan menggembalakan domba-domba-Nya secara pribadi. Ini menunjukkan bahwa dalam menggembalakan, Tuhan memperhatikan kita satu per satu (bdk. Yoh. 10:3b).
Dengan demikian, bila Tuhan yang menggembalakan kita,
maka tidak mungkin ada domba yang ketinggalan atau luput dari perhatian-Nya.
Kita tetap diperhatikan dan digembalakan Tuhan betapapun rendahnya dan tak
berartinya status sosial kita di masyarakat (orang miskin, orang tak punya
kedudukan, orang yang dianggap bodoh, dsb.). Karena itu, apapun yang kita alami
jangan kita anggap bahwa Tuhan tidak mempedulikan kita. Tetapi, di sisi lain,
kita juga harus tetap takut akan Tuhan karena, dalam artian negatif, kita juga
diawasi Tuhan satu per satu, karena “Mata
TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal
15:3).
TUHAN MENCUKUPI
KEBUTUHAN KITA
Kita takkan kekurangan karena Tuhan mencukupi kebutuhan kita (ay. 1). Perlu dicatat bahwa tidak dikatakan ‘kelimpahan’ tetapi ‘takkan kekurangan’. Ini berarti Tuhan tidak menjanjikan kekayaan, tetapi kecukupan (bdk. Maz. 34:10-11; 37:25). Kalau kita betul-betul kekurangan kiranya kita perlu introspeksi apakah sudah kita lakukan atau tidak apa yang dinyatakan Yesus dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.
‘Rumput’ dan ‘air’ (ay. 2) memang merupakan kebutuhan
domba, dan itu pasti diberikan oleh gembalanya. Ini berarti Tuhan tidak
berjanji memenuhi semua yang kita inginkan, tetapi semua yang kita butuhkan
(Mat. 6:25-34). Selain berjanji mencukupkan kebutuhan kita, Tuhan juga akan
menyegarkan atau memulihkan kita dari kelelahan karena berbagai pergumulan
dunia maupun dari kesesatan akibat kesalahan kita. Karena itu kita tidak perlu
takut tersesat karena Tuhan membimbing dan menuntun kita. Ini bukan berarti
kita boleh mengarahkan hidup kita secara sembarangan, namun haruslah berusaha
untuk mengetahui dan mentaati kehendak Tuhan bagi kita, dan kita juga harus
percaya bahwa Tuhan mau dan pasti memimpin kita.
TUHAN MELINDUNGI
KITA DARI BAHAYA
Tidak selamanya kehidupan domba itu enak terus seperti yang tampak dalam ay. 1-3, tetapi juga bisa menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan bahkan menakutkan yang digambarkan oleh “lembah kekelaman” dalam ay. 4 dan “lawan” dalam ay. 5. Dalam Alkitab Bhs. Inggris maupun Bhs. Batak Toba kata ‘lawan’ ini ada dalam bentuk jamak (enemies [KJV], angka musungku [Batak Toba]). Musuh domba itu memang banyak yang menunjukkan bahwa menjadi orang Kristen atau orang percaya tidak berarti kita akan dicintai semua orang. Justru sebaliknya, akan banyak orang yang memusuhi atau menentang kita karena kita mengikuti, mentaati dan melayani Tuhan. Paulus misalnya, sekalipun ia adalah seorang rasul, namun ia mengalami banyak permusuhan dan pertentangan bahkan dituding sebagai pembuat kekacauan (trouble maker) (Kis. 24:5).
Sekalipun dalam kehidupan domba itu ada banyak hal yang
menakutkan, namun domba itu tetap tidak boleh takut karena Gembalanya akan
menyertai dan melindunginya (ay. 4). Bahkan lebih daripada itu, Tuhan bisa memberkati
kita di dalam kesukaran atau di tengah-tengah kepungan musuh-musuh kita (ay.
5). Kalau kita perhatikan, di ay. 5 metafora yang digunakan bukan lagi
gembala-domba tetapi tuan rumah-tamu. Tradisi pada masa itu mengharuskan tuan
rumah untuk bersikap ramah terhadap tamu. Keramahan tuan rumah dalam menyambut
tamu, seperti menghidangkan makanan dan minuman yang berlimpah dan mengurapi
kepala dengan minyak (ay. 5), seperti itulah melimpahnya keramahan Tuhan dalam
menyambut kita anak-anak-Nya.
TUHAN ADALAH
GEMBALA YANG SETIA
Tuhan terus menggembalakan kita dengan setia seumur hidup kita sampai kita masuk ke surga/rumah Tuhan (ay. 6). Karena itu kita tidak perlu takut kalau-kalau Tuhan akan bosan dengan kita. Dia adalah gembala yang setia, bahkan akan tetap setia sekalipun kita tidak setia (2 Tim. 2:13).
Jadi dengan memperhatikan semua yang dipaparkan pemazmur
tentang Gembala dalam nas ini, dapatlah kita simpulkan bahwa penggembalaan
Tuhan itu sempurna. Karena itulah maka kita tidak perlu dihinggapi phobia-phobia
yang tak beralasan dan tak masuk akal. Kita juga tidak boleh takut dalam
menghadapi keadaan yang bagaimanapun dalam kehidupan kita di dunia ini.
REFLEKSI
Bagaimanapun juga, kita mempunyai tanggungjawab untuk
menjadi domba yang baik. Untuk menjadi domba yang baik, maka kita haruslah:
mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan; puas dengan apa yang diberikan oleh Tuhan;
mau dipimpin dan mau dekat dengan Tuhan; dan percaya, berharap dan bersandar
kepada Tuhan.
Comments
Post a Comment